Kamis, 27 Desember 2012

Henoteisme



Oleh : Ana & Diana


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Setiap orang, bangsa, atau golongan pasti memiliki sistem kepercayaan. Namun, dalam sejarah kepercayaan umat manusia, hanya tercatat beberapa perkembangan sistem kepercayaan. Yaitu dinamisme, animisme, politeisme, henoteisme dan monoteisme. Kepercayaan yang paling primitive adalah dinamisme, sedangkan kepercayaan yang paling tinggi adalah monoteisme. Untuk mencapai kepada kepercayaan monoteisme terlebih dulu melalui henoteime. Karena keyakinan henoteisme merupakan peralihan dari politeisme berkembang menjadi kepercayaan monoteisme.
Salah satu penganut kepercayaan henoteisme adalah bangsa Yunani Kuno. Oleh sebab itu, untuk memperdalam pemahaman mengenai Henoteisme, pemakalah akan membahas lebih rinci tentang henoteisme dalam makalah ini, baik mengenai sejarah, pengertian, maupun penganut kepercayaan ini.
A.  Rumusan Masalah
1.    Apakah pengertian kata Henoteisme?
2.    Bagaimana sejarah munculnya keyakinan Henoteisme?
3.    Bangsa manakah yang menganut paham Henoteisme?
4.    Bagaimana jika dihubungkan dengan analisis historis dan analisis fenomenal?
C. Tujuan Penulisan
1.    Mengetahui tentang konsep pengertian kata Henoteisme dari berbagai literatur.
2.    Mengetahui tentang konsep sejarah munculnya keyakinan Henoteisme.
3.    Mengetahui penganut-penganut paham Henoteisme.
4.    Mengetahui hubungannya dengan analisis historis dan analisis fenomenal.



BAB II
KEYAKINAN HENOTEISME
1.      Pengertian Henoteisme
Henoteisme berasal dari bahasa Yunani, heis atau enos yang berarti satu dan theos yang berarti Tuhan, suatu bentuk politeisme dari banyak Tuhan yang ada salah satunya adalah penguasa tertinggi mereka, yang padanya Tuhan-Tuhan lain harus mengungkapkan kesetiaan dan ketaatan mereka.[1]
Di buku lain juga disebutkan bahwa henoteisme disebut juga monolatry. Berasal dari kata heno yang berarti satu dan latreuin yang artinya menyembah. Merupakan salah satu aliran dalam filsafat agama yang mengakui dan menyembah satu Tuhan, namun mereka juga tidak mengingkari adanya Tuhan-Tuhan bagi agama lain.[2]
Dalam kamus besar bahasa Indonesia henoteisme berarti keyakinan kepada satu Tuhan tanpa mengingkari adanya dewa lain dan makhluk halus.
Dari berbagai pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa henoteisme adalah kepercayaan yang tidak menyangkal adanya Tuhan banyak, tetapi hanya mengakui satu Tuhan Tunggal sebagai Tuhan yang disembah. Henoteisme juga berarti mengakui satu Tuhan untuk satu bangsa, dan bangsa-bangsa lain mempunyai tuhan sendiri-sendiri. Tuhan-Tuhan bangsa lain tetap diakui tetapi tidak lagi sederajat dengan Tuhan tertinggi.
Henoteisme juga mengandung tiga pengertian. Pertama, yang berkuasa atas dunia ini tidak banyak melainkan satu, namun penguasa disatu tempat berbeda dengan satu penguasa ditempat lain. Kedua, ada banyak dewa, tetapi hanya satu yang Maha Kuasa. Ketiga, dewa atau penguasa di satu zaman berbeda dengan penguasa di zaman lain.

2.      Sejarah Munculnya Henoteisme 
Berawal dari kepercayaan politeisme, yakni percaya banyak Tuhan. Dalam hal ini orang-orang percaya bahwa di dunia ini ada banyak dewa. Dan dalam politeisme dewa-dewa telah mempunyai tugas-tugas tertentu. Misalnya ada dewa api, dewa angin, dewa taufan, dewa Guntur, dewa perang, dewi kesuburan, dewi kecantikan, dan lain-lain. Dalam pertumbuhannya yang mula-mula, politeisme itu mempercayai banyak dewa, yang antara satu dengan yang lainnya sederajat kekuasaannya, tidak ada yang lebih tinggi daripada yang lainnya. Bahkan saling bersaing dan bertentangan, misalnya antara dewa api dan dewa hujan, dewa musim panas dengan dewa musim dingin, dewa kesuburan dengan dewa musin kemarau, dan lain sebagainya.
Tetapi lama-kelamaan diantara dewa-dewa itu ada yang dianggap lebih tinggi kesaktiannya, sehingga lebih dihormati dan dipuja, akhirnya timbul pemujaan terhadap tiga dewa diatas dewa lainnya. Dalam agama Hindu pada masa permulaan Weda, ada tiga dewa yang menonjol yaitu dewa Indra, Mithra, Waruna. Dalam perkembangan selanjutnya ada pemujaan atas trimurti yang terdiri dari Brahma, Wisnu, dan Syiwa. Dalam agama Mesir kuno ada dewa Osiris, Isis (istrinya), dan Horus (anaknya). Dalam agama Arab jahiliyyah kita mengenal dewa Lata, ‘Uzza, dan Manata.
Ada pula kalanya satu dari dewa-dewa itu ada yang meningkat di atas segala dewa yang lain seperti Zeus  dalam agama Yunani kuno, Yupiter dalam agama Romawi dan Ammon dalam agama Mesir kuno. Ini bukan berarti  pengakuan pada satu Tuhan, tetapi baru pada pengakuan dewa terbesar diantara dewa yang banyak. Paham ini belum meningkat pada paham monoteisme atau henoteisme, tetapi masih dalam tingkat politeisme. Tetapi kalau dewa yang terbesar itu saja yang kemudian dihormati dan dipuja sedangkan dewa lain ditinggalkan, paham demikian telah keluar dari politeisme dan meningkat pada henoteisme.[3] Selain itu henoteisme muncul karena ketidakpuasan terhadap sistem kepercayaan politeisme. Oleh sebab itu mereka mencari sistem kepercayaan yang lebih memuaskan dan masuk akal, karena kepercayaan kepada satu Tuhan lebih mendatangkan kepuasan dan diterima oleh akal sehat.
Istilah henoteisme ini pertama kali diciptakan oleh Friedrich Wilhelm Joseph von Schelling (1775-1854) untuk menggambarkan apa yang dia pikir sebagai tahap awal untuk monoteisme. Jadi henoteisme merupakan cikal bakal dari monoteisme. Kemudian kata henoteisme ini dibawa ke dalam penggunaan umum oleh ahli bahasa Max Müller (1823-1900) untuk mengkarakterisasi keyakinan agama yang ditemukan dalam Veda dari Hindu.
Selanjutnya antropolog Edward Burnett Tylor (1832-1917) yang mengatakan bahwa kepercayaan ada yang dari monoteis ke politeis tapi ada juga yang dari politeis ke monoteis. Kepercayaan dari onoteis menjadi polities karena manusia mudah takjub, sehingga mereka enciptakan Tuhan-Tuhan yang banyak. Jadi peralihan kepercayaan ini karena jiwa manusia tidak mampu mempertahankan diri terhadap ke Esaan Tuhan, sedangkan peralihan kepercayaan dari politeis ke monoteis dapat diketahui dari fenomena-fenomenanyang terjadi pada zaman dulu. Jika dihubungkan dengan teori  E.B Taylor diatas, henoteisme merupakan fase alami dalam perkembangan pembangunan agama dimana budaya seharusnya berevolusi dari politeisme, melalui henoteisme, ke puncak monoteisme sebagai manifestasi tertinggi pemikiran keagamaan.
Mengenai hubungannya dengan teori Plato tentang idea of good, bahwa dari ide kebaikan ini henoteisme berevolusi dari poleteisme, karena dari dewa-dewa yang banyak itu pasti ada yang lebih unggul atau dianggap kebaikannya lebih mutlak yaitu sebagai dewa utama atau dewa Nasional. Jika dalam kebaikan mutlaknya teori Plato adalah Tuhan, maka dalam henoteisme kebaikan mutlaknya adalah Dewa Nasional.
Yang menarik dari henoteisme adalah paham ini mencari kepuasan dan kemasuk akalan dari paham politeisme dengan mencari Tuhan utama, Tuhan utama adalah Tuhan satu yaitu Tuhan nasional untuk satu bangsa. Karena dengan kepercayaan kepada satu Tuhan lebih mendatangkan kepuasan dan diterima oleh akal sehat.
Cara-cara untuk mencari Tuhan ini terkait dengan ayat-ayat al-Qur’an, sebagai mana yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim yang mencari Tuhan yang Maha Esa. Manusia memang perlu mencari Tuhannya yang tunggal untuk mencapai kebahagiaan.

3.      Penganut Kepercayaan Henoteisme
Didunia yang menganut Henoteisme adalah bangsa Yunani Kuno, Romawi dan umat agama Yahudi.  Namun yang paling menonjol dari henoteisme ditemukan dalam budaya Yunani kuno dan Roma. Agama Yunani-Romawi dimulai sebagai politeisme, tapi benar-benar menjadi henoteisme dari waktu ke waktu.
Penganut paham henoteisme selain Yunani kuno dan Roma adalah umat Yahudi. Yahweh adalah Tuhan agama Yahudi dan merupakan Tuhan nasionalnya tetapi tidak merupakan Tuhan bagi sekalian alam. Sewaktu masyarakat Yahudi masih pada tahap animisme, kemudian datang tuhan dari bukit Sinai yang bernama Yahweh. Yahweh ini dianggap sebagai Tuhan nasional dan menghilangkan Tuhan-Tuhan yang lain.
Paham teologi agama Yahudi menonjolkan Tuhan yang bersifat kebangsaan menimbulkan rasa sombong dalam diri mereka. Mereka menganggap bangsa merekalah yang paling hebat dan pintar daripada bangsa lain di dunia ini karena mereka keturunan Tuhan yang hebat juga. Dengan teologi yang demikian mereka menganggap Tuhan Yahweh adalah Tuhan yang selalu menang dalam peperangan melawan Tuhan-Tuhan bangsa lain. Dalam Alquran bangsa Yahudi atau bangsa Israel adalah bangsa yang selalu memprotes para Nabi. Namun, juga perlu diakui bahwa mayoritas Nabi setelah Nabi Ibrahim dari keturunan bani Israel. Hal ini ada dua kemungkinan, pertama karena bani Israel terlalu sombong dan nakal, sehingga perlu diberi Nabi lebih banyak. Kedua, karena bani Israel disayang Tuhan, “ini sesuai dengan pengakuan mereka”. Namun yang kedua nampaknya tidak cocok karena Tuhan selalu menimpakan bencana kepada mereka berupa adzab. Dengan demikian tinggal pada alasan pertama.[4]
4.      Analisis
a.       Analisis Historis
Dalam Hinduisme, ide Tuhan yang personal berkembang perlahan-lahan. Pada permulaan periode Vedis, ada politeisme yang mencolok. Kendati demikian tampak gejala henoteisme dengan jelas. Karena sering dilakukan permohonan kepada dewa-dewa individual yang dianggap sebagai yang tertinggi dan yang paling kuasa. Max Muler mendefinisikan henoteisme sebagai kepercayaan akan dewa-dewa individual satu sesudah yang lain yang dianggap sebagai yang tertinggi, dewa yang disembah pada saat itu diperlakukan sebagai dewa yang tertinggi. Bagaimanapun keshahihan teori henoteisme yang diterapkan pada agama vedis, studi kritis dapat memberikan argument, dan memang telah dilakukannya, bahwa menyembah satu dewa pada suatu saat sebagai yang tertinggi mungkin merupakan bentuk pujian yang dilebih-lebihkan, yang dibaktikan oleh orang-orang Arya pertama pada dewa pilihan mereka. Praktek ini membimbing orang vedis pada suatu identifikasi satu dewa dengan dewa yang lain, bahkan dengan semuanya.[5]
b.      Analisis fenomenal
Manusia zaman dulu ingin mencari dari Tuhan yang banyak menjadi Tuhan yang utama. Oleh sebab itu, henoteisme ini merupakan peralihan dari politeisme ke monoteisme. Fenomena henoteisme ini bisa dilihat dalam perkembangan kepercayaan Yunani Kuno, yang mana pada mulanya dewa Yunani Kuno berjumlah dua belas, namun seiring berjalannya waktu karena masyarakat Yunani Kuno ini ingin mencari dewa utama dari kedua belas dewanya dan dari dewa-dewa meningkat meningkat menjadi yang utama, maka dianggaplah Zeus sebagai Dewa utama, Yupiter dalam agama Romawi dan Ammon dalam agama Mesir kuno.


 
BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
Henoteisme adalah kepercayaan yang menerima pernyataan adanya Tuhan banyak tetapi hanya menyembah satu Tuhan. Kepercayaan ini muncul sebagai bentuk perkembangan dari politeisme. Penganut paham henoteisme adalah umat Yahudi. Yahweh adalah Tuhan agama Yahudi dan merupakan Tuhan nasionalnya tetapi tidak merupakan Tuhan bagi sekalian alam. Henoteisme juga berarti mengakui satu Tuhan untuk satu bangsa, dan bangsa-bangsa lain mempunyai tuhan sendiri-sendiri. Tuhan-Tuhan bangsa lain tetap diakui tetapi tidak lagi sederajat dengan Tuhan tertinggi. Dapat disimpulkan bahwa perbedaan antara henoteisme dan monoteisme adalah bahwa dalam agama akhir ini Tuhan tidak lagi merupakan “Tuhan Nasional” tetapi “Tuhan Internasional”, Tuhan semua bangsa di dunia ini bahkan Tuhan alam semesta. Henoeisme merupakan peralihan dari politeisme, karena penganut politeisme merasa tidak puas terhadap politeisme sehingga mereka mencari keyakinan lain yang lebih masuk akal, yakni henoteisme.
B.     Saran
Sebagai umat islam kita wajib mempercayai dan menyembah Tuhan yang satu yaitu Allah swt. meskipun di luar sana ada anggapan Tuhan yang banyak. Allah adalah satu-satunya Tuhan yang melingkupi sekalian alam.





DAFTAR PUSTAKA

Bakhtiar, Amsal. 2009. Filsafat Agama.  Jakarta: Rajawali Pers.
Manaf, Mudjahid Abdul. 1994. Ilmu Perbandingan Agama. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
TIM Penulis Rosda, 1995. Kamus Filsafat, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.


[1]TIM Penulis Rosda, Kamus Filsafat (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1995), 133
[2]Ali Mudhofir, Teori dan Aliran dalam Filsafat dan Teologi (Yogyakarta: Gadjah mada University Press, 1996), 88-89
[3]Mudjahid Abdul Manaf, Ilmu Perbandingan Agama, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994),13-14
[4]Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama (Jakarta: Rajawali Pers, 2009),  72-73
[5]Mariasusai dhavamony, Fenomenologi Agama (Jakarta: Rajawali Pers, 1995), 124-125.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar