Selasa, 25 Desember 2012

Teologi Hasan Al-Banna



 Oleh : Haniatus Shalihah



BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Dalam setiap bidang terdapat periode-periode, termasuk diantaranya bidang pemikiran teologi. Adanya pengaruh pikiran dari Barat menimbulkan para pemikir Muslim  bangkit. Masa ini disebut juga dengan masa pemikiran modern. Karakteristik pada masa ini adalah sifat kerasionalan para pemikir, namun dilain sisi juga bersifat filsafati. Diantara sekian banyak pemikir yang muncul, satu diantaranya adalah Hasan Al-Banna.
Hasan Al-Banna merupakan pemikir muslim dari Mesir. Beliau mendirikan sebuah organisasi yang cukup terkenal yang disebut dengan Ikhwan Al-Muslimin. Hasan Al-Banna dan organisasinya mencoba memunculkan pemikiran ideologi yang bermacam-macam untuk dapat ditawarkan pada masyarakat saat itu. Tentang siapa Hasan Al-Banna dan pikiran-pikirannya akan dibahas pada sub bab-sub bab selanjutnya.
Dalam makalah ini, permasalahan-permasalahan yang akan dibahas adalah:
1.      Siapa Hasan Al-Banna?
2.      Apa saja pemikiran-pemikiran yang dipersembahkannya?
Dan tujuan makalah ini disusun adalah untuk:
1.      Mengetahui tokoh Hasan Al-Banna.
2.      Mengetahui pemkiran-pemikiran Hasan Al-Banna.

B.  Riwayat Hidup dan Pendidikan Hasan Al-Banna
            Hasan Al-Banna lahir pada tanggal 17 Oktober 1906 di Mahmudiyah, Buhairah, Mesir. Ayahnya bernama Syekh Ahmad Abd. Ar-Rahman Al-Banna. Beliau bekerja sebagai tukang reparasi jam, namun juga berprofesi sebagai seorang ulama’, serta pernah belajar di Al-Azhar sebagai mahasiswa[1] sehingga dapat menulis dan berkolaborasi dalam buku-buku yang bertajuk Islam.
            Dalam hidupnya, Hasan Al-Banna adalah seorang pahlawan yang gagah berani karena Beliau memperjuangkan kehidupan masyarakat dari penindasan, sehingga disebut ulama’ atau pemikir yang berhasil dalam pandangan umat Islam Internasional. Hasan Al-banna memperoleh pendidikan agama secara tidak langsung dari ayahnya, namun Beliau juga belajar agama secara individual di dalam perpustakaan milik ayahnya.
           
            Pada usia 12 tahun, Hasan Al-Banna mulai terjun dan aktif dalam oraganisasi, yaitu himpunan perilaku bermoral dan himpunan pencegahan kemungkaran. Pada saat itu juga, Beliau telah berhasil menghafal Alquran. Beliau membagi kegiatannya menjadi 4 bagian, yaitu siang hari untuk menuntut ilmu di sekolah, kemudian belajar dan membuat jam bersama ayahnya hingga sore hari, sore hari hingga menjelang tidur digunakan untuk mengulang kembali pelajarannya yang diperoleh dari sekolah, sedangkan pada waktu shubuh, Beliau menggunakan waktunya untuk membaca dan mengulang hafalan Alquran. Pada tahun 1919 Hasan Al-Banna aktif dalam demonstrasi anti Inggris. Dari kedisiplinan Hasan Al-Banna dalam kegiatan sehari-hari, maka Beliau berhasil menghafal seluruh ayat Alquran pada usia 14 tahun. Pada usia 15 tahun Beliau melanjutkan studinya di Teacher Training Collage di Damanhur.[2]  Tahun 1923 (kurang lebih usia 17 tahun) hasan Al-Banna pergi ke Kairo untuk memasuki sekolah tinggi di Darul Ulum, Mesir.[3]
            Di lembaga pendidikan Darul Ulum tersebut, Hasan Al-Banna bertemu dengan orang-orang yang sependapat dengannya seperti Muhibbuddin Al-Khattib, bersama rekan-rekannya tersebut Hasan Al-Banna mendirikan asosiasi pemuda muslim (YMMA) pada bulan November 1927, usianya kurang lebih 21 tahun. Asosiasi ini merupakan cikal bakal terbentuknya Ikhwan Al-Muslimin pada tahun 1928 dengan tujuan mempromosikan Islam sejati dan berjuang melawan dominasi asing. Setelah lulus dari Darul Ulum, Hasan Al-Banna mengajar di sekolah dasar Al-Islamiyah yang terletak di terusan Suez.
            Sebelum meninggal, Hasan Al-Banna mewariskan karya monumentalnya, yaitu “Catatan Harian Dakwah” dan “Da’I” serta kumpulan surat-surat. Pada tanggal 12 Februari 1949 Hasan Al-Banna meninggal karena  tertembak polisi rahasia Mesir karena dituduh terlibat dalam pembunuhan Al-Nuqrasa Phasa tahun 1948. Namun di lain sisi alasan terbunuhnya Hasan Al-Banna adalah terkait dengan pernyataannya bahwa teror merupakan cara yang tidak bisa diterima oleh Islam.

C.  Pemikiran Hasan Al-Banna
            Secara umum pemikiran Hasan Al-Banna dalam berbagai bidang sebagian besar dipengaruhi oleh Rasyid Ridha. Hal itu dikarenakan Hasan Al-Banna banyak berinteraksi secara langsung dengan Rasyid Ridha saat  berada di Kairo. Selain itu, Beliau juga tertarik oleh penegasan Rasyid Ridha mengenai Self Sufficiency yang total dan komplit dari Islam, yakni ajaran sendiri yang sungguh cukup dan sempurna, beserta penegasannya tentang bahaya westernisasi.[4] Beberapa pemikiran Hasan Al-Banna ialah:

a.      Bidang Politik
            Menurut Hasan Al-Banna, antara agama dan politik tidak dapat dipisahkan. Dalam suatu negara, beliau menolak adanya sistem multipartai. Hal itu dikarenakan melanggar sistem kesatuan nasional, sehingga memicu adanya perpecahan. Sedangkan Islam membenci adanya perpecahan dan menjunjung tinggi persaudaraan. Islam hanya menerapkan 3 prinsip pokok, yaitu:
1.      Penguasa bertanggung jawab kepada Allah dan rakyat.
2.      Umat Muslim harus bertindak dan berbuat sesuatu secara menyatu, karena persudaraan Muslim merupakan prinsip iman.
3.      Bangsa Muslim harus mengontrol penguasa, menasehati, dan mengupayakan agar kehendak bangsa dihormati.[5]
                        Untuk bentuk pemerintahan, Hasan Al-Banna menganggap bahwa kekhalifahan merupakan pemerintahan yang tepat untuk jangka panjang. Kekhalifahan sepenuhnya harus didasarkan pada Alquran dan tujuan kekhalifahan adalah untuk mencapai keadilan sosial dan menjamin kesempatan yang memadai bagi semua individu muslim.[6] Kekhalifahan yang paling ideal adalah kekhalifahan Nabi Muhammad saw.

b.      Bidang Sosial Ekonomi
Pemikiran Hasan Al-Banna dalam biadang ini adalah nasionalisasi Ekonomi. Masyarakat tidak perlu menerapkan atau memakai sistem-sistem ekonomi dari Barat. Hal itu dikarenakan, Negara Islam akan menyediakan lapangan pekerjaan dan pengembangan sarana-prasarana industri, sehingga judi dan riba benar-benar dijauhi dan ditinggalkan. Kaum Muslimin memiliki tanggungan untuk membayar zakat yang ditunjukan untuk membantu sesama Muslim. Namun di lain sisi Islam tetap menjunjung tinggi adanya hak-hak milik pribadi atas kerja keras dan kemauan setiap individu, selama tidak melanggar kepentingan-kepentingan umum.


c.       Bidang Pendidikan
Peran guru dan ulama’ mengungguli peran dan pengaruh ahli tasawuf, karena guru dan ulama’mempengaruhi masyarakat dalam pendidikan dan lebih mampu menyerang penyakit yang menimpa masyarakat Mesir.[7] Menurut Hasan Al-Banna pendidikan penting bagi setiap orang termasuk juga bagi perempuan, seperti belajar membaca, menulis, aritmatika, agama, sejarah Islam, pendidikan tentang gizi, merawat anak dan mengatur rumah tangga. Pendidikan yang dicapai oleh para wanita akan bermanfaat untuk cara mereka dalam mengerjakan tugas-tugas mereka dengan baik dan sesuai dengan ajaran Islam.

d.      Bidang Teologi
Secara umum teologi Hasan Al-Banna adalah harus mengakui keEsaan Allah dan tidak ada persamaan antara Allah dan makhlukNya.[8] Iman seseorang dapat dilihat dari pengakuan percaya kepada Allah dan kenabian Muhammad, berbuat sesuai kepercayaan dan menunaikan kewajiban agama. Orang yang terang-terangan menyatakan murtad, meyakini keyakinan dan perilaku yang tidak diajarkan dalam Islam, serta sengaja mendistorasi arti alquran dapat dikatakan kafir.
Dalam menunjukkan adanya Allah, Beliau menggunakan dalil fitrah sebagai dalil pertama. Kefitrahan sesungguhnya dimiliki oleh setiap individu. Karena kepercayaan manusia sudah mengakar dalam jiwa manusia. Sebagai contoh, orang yang berada ditengah lautan dan diterjang ombak yang sangat besar, dimana ia tidak beragama sekalipun akan merasa dan berfikir, serta yakin bahwa akan ada kekuatan yang sangat besar yang akan menyelamatkannya dengan kekuasanNya. Hasan Al-Banna menenkankan kepada kaum Muslimin untuk kembali kepada Alquran dan hadist.
Intisari keimanan orang-orang yang beriman kepada Allah yang sebenarnya ialah mereka penuh yakin bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu wajib ada, bersifat dengan semua sifat kesempurnaan, suci bersih daripada segala sifat kekurangan, tidak ada ilmu yang lebih luas daripada ilmuNya, tiada qudrat yang lebih besar daripada qudratNya, dan tidak ada kesempurnaan yang lebih mulia daripada kesempurnaanNya.[9]
Seiring dengan banyaknya perbedaan, maka Hasan Al-Banna berpendapat bahwa perbedaan dalam hal furu’iyah merupakan sesuatu yang mesti dan tidak dapat dihindari. Untuk itu hendaknya umat muslim menghindari untuk memperdebatkan hal-hal yang bersifat spekulatif (furu’iyah).[10] Sebagai seorang muslim, maka tentunya harus percaya adanya qada’ dan qadar. Qada’ dan qadar disini bukan untuk membuat manusia itu menjadi malas dan hanya menunggu, melainkan untuk meyakinkan manusia agar semaksimal mungkin berusaha dan baru kemudian menyerahkannya kepada Sang Khaliq, sehingga ia memperoleh kejayaan dunia dan akhirat.[11] Jadi keutamaan qada’ dan qadar adalah menunjukan adanya kuasa Allah dan memacu manusia untuk selalu berusaha.
Dalam Islam, hal yang paling penting dan mendasar selain iman adalah aqidah Islamiyah. Unsur-unsur aqidah sendiri adalah:
1)      Ber’itiqad dengan kewujudan Allah yang wajib bagi DzatNya yang tidak mengambil daripada yang lainnya. Dia juga Maha Kuasa, Maha Mengetahui dengan sepenuhnya makna ilmu dan qudrat yang setinggi-tingginya, karena alam semesta ini tidak mungkin terjadi kecuali dengan alasan ilmu yang luas dan qudrat yang meliputi.
2)      Menafikan sifat-sifat keserupaan (Al-Musyabahah) dan sifat kekurangan daripada Tuhan Pencipta (Al-Khalik). Maksudnya, sifat-sifat makhluk terhindar daripadaNya, karena makhluk itu berubah-ubah, sedangkan Dia tidak berubah-ubah.
3)      Aqidah Islam sama sekali tidak menyentuh tentang hakikat dan keadaan Dzat dan sifat-sifat Allah, tetapi sebaliknya dengan cara yang hati-hati dan harus menetapkan segi perkara dengan arti kata yang sebenar-benarnya antara keadaan Dzat Tuhan dan sifatNya dengan makhluk-makhluk dan sifat-sifat mereka. Hal inilah yang digunakan oleh Hasan Al-Banna sebagai dasar teologinya.
4)      Aqidah Islam menggariskan jalan kearah mengenal sifat-sifat Al-Khalik dan mengetahui sifat-sifat kesempurnaanNya serta keistimewaan Tuhan. Untuk mencapainya, harus merenung dan memerhatikan alam jagat ini dengan pandangan suci tanpa dipengaruhi adanya mitos-mitos.
5)      Aqidah Islam menguatkan hubungan antara perasaan hati manusia dengan Al-Khalik. Sehingga manusia akan sampai kepada suatu jenis ma’rifat rohaniyah yang paling manis dan paling tinggi daripada jenis-jenis ma’rifat secara keseluruhan.
6)      Aqidah Islamiyah menuntut orang-orang mukmin supaya kesan daripada unsur-unsur aqidah ini dijelma atau dimanifestasikan dalam tutur kata dan segala perbuatan mereka.[12]
Sisi rasionalitas teologi Hasan Al-Banna dapat diketahui dari pendapatnya bahwa akal dan ilmu pengetahuan berada paling depan. Hal ini dikarenakan, akal merupakan syarat penentuan pahala dan dosa seseorang. Manusia harus berfikir dan merenung, mencari bukti keberadaan dan keEsaanNya hingga akhirnya dapat memperkuat keyakinan. Jadi manusia itu hatinya diawali dengan iman kemudian akal mulai berperan untuk manusia dalam menemukan Tuhan untuk lebih memperkuat keyakinan yang telah ada.




 

KESIMPULAN

            Hasan Al-Banna adalah seorang teolog Muslim dari Mesir. Beliau lahir pada tanggal 17 Oktober 1906 di Mahmudiyah, Buhairah, Mesir. Dalam hidupnya, Hasan Al-Banna merupakan seorang pahlawan yang gagah berani karena Beliau memperjuangkan kehidupan masyarakat dari penindasan, sehingga disebut ulama’ atau pemikir yang berhasil dalam pandangan umat Islam Internasional. Hasan Al-Banna meninggal pada tanggal 12 Februari 1949, Beliau tertembak polisi rahasia Mesir karena dituduh terlibat dalam pembunuhan Al-Nuqrasa Phasa tahun 1948. Namun di lain sisi alasan terbunuhnya Hasan Al-Banna adalah terkait dengan pernyataannya bahwa teror merupakan cara yang tidak bisa diterima oleh Islam.
                        Secara umum pemikiran Hasan Al-Banna dalam berbagai bidang sebagian besar dipengaruhi oleh Rasyid Ridha. Hal itu dikarenakan Hasan Al-Banna banyak berinteraksi secara langsung dengan Rasyid Ridha saat  berada di Kairo. Teologi Hasan Al-Banna adalah harus mengakui keEsaan Allah dan tidak ada persamaan antara Allah dan makhlukNya. Teologinya ini bersifat rasionalis karena Beliau mengedepankan akal dan ilmu pengetahuan. Dasar tologi Hasan Al-Banna adalah Aqidah Islam yang sama sekali tidak menyentuh tentang hakikat dan keadaan Dzat dan sifat-sifat Allah, tetapi sebaliknya dengan cara yang hati-hati dan halus menetapkan segi perkara dengan arti kata yang sebenar-benarnya antara keadaan Dzat Tuhan dan sifatNya dengan makhluk-makhluk dan sifat-sifat mereka. Mengenai qada’ dan qadar menurut Hasan Al-Banna, qada’ dan qadar bukan untuk membuat manusia itu menjadi malas dan hanya menunggu, melainkan untuk meyakinkan manusia agar semaksimal mungkin berusaha dan baru kemudian menyerahkannya kepada Sang Khaliq, sehingga ia memperoleh kejayaan dunia dan akhirat.









DAFTAR PUSTAKA

John L espito. 1990. Islam dan Politik. Jakarta: Bulan dan Bintang.
Ali Rahmenah. 1999. Para Perintis Zaman Baru Islam. Bandung: Mirza.
Ma’shum. 2011. Pemikiran Teologi Islam Modern. Yogyakarta: Interpena.
Al-Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna. Allah dalam Aqidah Islamiyah. Pustaka Aman Press SDN
Azyumardi Azra. Pergolakan Politik Islam.
Yusuf Qordawi. 1999. Tujuh Puluh Tahun Al-Ikhwanul Al-Muslimin. Jakarta: Pustaka al-Kautsar.



[1] Ali Rahmenah, Para Perintis Zaman Baru, (Bandung; Mirza, 1999), h.130
[2] John L Espasito, Islam dan Politik, (Jakarta;Bulan Bintang, 1990), h.182
[3] Ma’shum, Pemikiran Teologi Islam Modern, (Yogyakarta; Interpena, 2011), h.49
[4] John L Espasito, op.cit. , h.182
[5] Ma’shum, op.cit., h.46
[6] Azyumardi Azra, Pergolakan Politik Islam, h.117
[7] Ma’shum,op.cit., h.49 lihat juga Ali Rahmena, Para Perintis Zaman Baru Islam, (Bandung; Mirza, 1999), h.132
[8]Ibid, h.44
[9] Al-Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna (alih bahasa: Ustadz H. Fauzi, Haji awang), Allah dalam Aqidah Islamiyah,(;Pustaka Aman Press SDN,BHO)
[10] Yusuf  Qadrawi, Tujuh Puluh Tahun Al-Ikhwanul Al-Muslimin, (Jakarta; Pustaka al-Kautsar, 1999), h.122
[11] Al-Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna, op.cit.
[12] Al-Imam Asy.Syahid Hasan Al-Banna, op.cit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar