Selasa, 18 Desember 2012

St. Agustinus


Oleh : Izrin Mauidhatul Hasanah



            Markus Aurelius Augustinus (354-430) lahir dan hidup dalam kondisi zaman yang sudah berkembang di wilayah sekitar Laut Tengah sampai sebelah Timur Teluk Persia. Dalam masa tersebut telah terdapat tiga unsur pokok yang mewarnai dan menentukan, yaitu tersebarnya kebudayaan Helenisme, muncul dan meluasnya kerajaan Roma, dan tampilnya Gereja Kristiani. Waktu mudahnya ia menyelami filsafat yang bermacam-macam coraknya. Dalam agama pun ia mengenal beraneka aliran. Setelah ia berumur 33 tahun menjadi Katolik.
            Pada saat itu terdapat dua aliran yang berpengaruh luas dan lama, yaitu Stoa dan Epikurisme. Para penganut aliran tersebut merasa telah mendapatkan dasar pandangan hidup untuk bisa bertahan dalam gejolak-gejolak politik yang baru. Aliran tersebut menjadi pedoman dalam politik.
            Dalam pandangan Agustinus, orang yang bijaksana ialah orang yang nafsunya ditaklukkan kepada pemerintahan pikiran atau rasio. Ajaran Agustinus berbeda dengan ajaran Stoa, yang mau menyingkirkan segala nafsu dan segala apa saja yang telah bersifat irrasional. Jadi ajaran Stoa itu lebih mengutamakan pikiran atau rasio dibandingkan dengan nafsu.    
Stoa berusaha merasionalkan kehidupan manusia secara total, sambil mencita-citakan keadaan “apatheia”, keadaan tanpa nafsu, hasrat, dan keinginan. Agustinus tidak melangkah sejauh itu dalam menentukan apa yang bersifat etis atau moral. Ia hanya berbicara tentang penaklukan nafsu kepada yang lebih tinggi, yakni rasio. Kalau penaklukan itu tidak jadi, maka sebabnya ialah sikap manusia yang bebas. Manusialah yang menentukan jadi tidaknya penaklukan itu, dan ia pun bertanggung jawab atasnya. Kalau penaklukan tidak jadi, hidup manusia kacau dan tak teratur, terbawa oleh nafsu.[1] Kekacauan atau ketidakteraturan hidup manusia dikehendaki oleh kuasa yang lebih tinggi dari manusia, yakni Allah. Dalam buku-buku atau karya-karya yang ditulis oleh Agustinus, tidaklah semata-mata memuat filsafat saja, tetapi juga merupakan penerangan agama. Dan di dalamnya telah nampak juga pendapat filsafatnya.
Sekitar abad pertama sebelum Masehi, telah terjadi penggeseran titik berat pada kekuasaan politik dari Timur ke Barat dengan pusat di Roma. Kerajaan roma telah mencapai kemakmuran dan kemajuan sekitar abad pertama Masehi sampai pertengahan abad ketiga. Selain itu, pemerintahan Roma memberikan kebebasan besar kepada semua aliran asal tidak membahayakan keamanan dan kesatuan negara. Pada saat itu juga pejabat tinggi negara yang sekaligus seorang filusuf terkenal, yaitu Kaisar Markus Aurelius penganut Stoa dan pengarang dalam bahasa Yunani. Disamping itu juga, telah muncul aliran filsafat kuno terakhir, yaitu Neoplatonisme dengan pendirinya, yaitu Plotinus. Aliran tersebut berasal dari Mesir yang telah dipengaruhi alam pikiran Timur dan cepat berpengaruh di Roma.
Plotinus secara tidak langsung ingin memperbaharui filsafat Plato yang dianggap cocok dalam kebutuhan agamanya dan sekaligus ia juga belajar dari aliran Stoa. Filsafat Neoplatonisme itu lebih dinamis dibandingkan dengan filsafat Plato. Karena perkembangan filsafat Plato dianggap kurang dari filsafat Neoplatonisme.
Pada pertengahan abad pertama juga muncul Gereja Kristiani. Penyebaran ajaran agamanya cukup didukung oleh kebudayaan Helenisme dan kesatuan yang terjadi pada masyarakat dalam kerajaan Roma. Ajaran agama Kristiani mulai berkembang pesat, karena telah mendapatkan dukungan yang besar untuk masyarakat.
Setelah tahun 313 dalam lingkungan Gereja Kristiani muncullah puluhan pemikir besar yang berusaha menyoroti pokok-pokok iman Kristiani dilihat dari sudut pengertian dan akal budi. Mereka sering dinamai “Pujangga Gereja” dan dianggap sebagai teolog dengan akibat bahwa filsafat yang termuat dalam ajaran mereka kurang diangkat meski tetap sejalur dengan lanjutan Neoplatonisme. Salah satu dari antara mereka adalah Agustinus.[2]
Manusia itu tidak hanya merupakan perseorangan, melainkan juga merupakan perkawinan. Perkawinan ini mengandung hubungan jasmani. Manusia yang terikat dalam perkawinan jasmani ini merupakan masyarakat. Tentu saja manusia karena ikatan rohani, yang berwujud kasih dan cinta dapat juga merupakan masyarakat rohani, yaitu gereja.[3]
Perkembangan Pemikiran Agustinus
            Agustinus berasal dari wilayah yang sama dengan Tertulianus, provinsi Numidia di Afrika Utara dengan ibukota Kartago. Ia mendapatkan pendidikan Kristiani dari ibunya, yakni Monika. Tetapi ketika Agustinus mulai dewasa atau muda, iman iman tersebut sudah tidak berarti lagi baginya, terutama pada saat ia belajar di Madaura. Kemudia ia pergi ke Kartago untuk mempelajari tata bahasa, retorika supaya ia mampu berkomunikasi di muka umum, dan menjadi orang yang sukses.
            Menurut pengakuan Agustinus sendiri, selama masa mudanya, ia hidup berfoya-foya. Ia mempunyai latar belakang pemikiran filsafat dari aliran Manikeisme yang mempunyai pandangan hidup dualistis. Agustinus merasa tidak memperdulikan keadaan yang ada dan ia selalu merasa kurang dalam pengetahuaan sehingga ia selalu ingin memperdalam pengetahuan.
Filsafat ini memberikan toleransi besar terhadap segala kelemahan manusia dengan beranggapan bahwa kaum “jasmani” atau para “pendengar” tidak dapat lain dari pada berharap bahwa pada penitisan kembali, mereka akan lahir sebagai yang “terpilih” dan mendapatkan keselamatan. Untuk sementara waktu dalam hidup “jasmani” ini mereka memberi toleransi pada kejasmanian dan kelemahan mereka.[4]
Setelah Agustinus pindah ke Roma, ia pindah dan memakai aliran Skeptisisme yang menganggap dirinya sebagai ahli waris terakhir dari Plato. Aliran ini sedikit menyimpang dengan Plato. Karena ia mempunyai anggapan bahwa manusia tidak mungkin mencapai kepastian dan kebenaran yang tetap dan mereka menganut relativisme mutlak dalam bidang pengetahuan dan nilai-nilai norma pada etika yang benar.
Usaha mendirikan perguruan di Roma gagal bermodalkan pengalaman hidupnya sendiri dan berdasarkan skeptisisme para penganut Akademi seakan-akan ia tak sanggup lagi mengejar kebenaran atau menyetujui adanya pedoman hidup yang baik. Akhirnya ia mendapat undangan untuk mengajar di Milano.[5]
Di tengah kegagalan yang telah dialami oleh Agustinus, ia belum juga menyerah dan ia masih ingin mengetahui perkembangan yang ada. Dalam kondisi yang merosot, ia berkenalan dengan karya Plotinus yang diubah oleh Porfirius yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh Marius Victorinus. Mulanya ia merasa terkesan dengan ajaran Neoplatonisme yang menjadisistem filsafat pertama yang dikenalkan dalam kehidupannya. Dalam ajaran itu telah terdapat pemikiran yang konsisten dan bukan dualis.
Harapan beberapa dari temannya, yakni ia kembali kepada iman Kristiani. Tetapi disisi lain ia juga berkenalan dengan Uskup Ambrosius di Milano yang mana pemikirannya sangat dipengaruhi oleh Origenis. Agustinus mengaku bahwa keyakinan intelektualnya diperoleh melalui Neoplatonisme seakan-akan hanya untuk menuntut suatu kelangsungan dalam praktek hidup yang sekiranya tidak berasal dari filsafat tersebut.
Agustinus mengaku kagum saat membaca karya Plotinus, bahkan ia telah menggoreskan perasaannya seakan-akan belum sampai pasa sesuatu yang telah dirumuskan setelah ia beriman. Karena di dalam karya Neoplatonisme, Kristus belum terdapat dalam tulisannya. Itulah ringkasan singkat yang terdapat dalam pemikiran Agustinus. Dan untuk selanjutnya sudah termuat dalam karyanya, yakni Confessiones.
Epistemologi Agustinus bersifat Iluminisme. Agustinus berkeyakinan bahwa manusia tidak sanggup mencapai kebenaran tanpa terang khusus dari Allah. Menurut ajaran Agustinus dapatlah budi mencapai kebenaran dan kepastian. Kebenaran dan kepastian itu dipaparkan dengan putusan-putusan yang baka, niscaya dan tak berubah. Adapun putusan-putusan ini, demikianlah Agustinus, berdasarkan atas realitas yang baka, niscaya dan tak berubah yang mengatakan budi dan pikiran manusia. Realitas itu haruslah rohani dan merupakan pesona, sumber segala hidup dan berpikir. Realitas itu ialah Tuhan sendiri.[6]
Dalam bidang etika, perlu diingat bahwa Agustinus bertahun-tahun lamanya mengalami ketidakmampuan untuk menyelenggarakan hidupnya dengan baik dan latar belakang dualisme manikeisme. Setelah Agustinus menjadi Kristen dan Uskup, Agustinus beranggapan keras afas Pelagius da pelagianisme. Karena mereka beranggapan bahwa ketegasan dan kerajinan manusia sendiri dapat berbuat baik dan dapat menyelamatkan diri. Dengan begitu manusia memiliki kesejajaran iluminisme tentang pengetahuan dalam bidang etika tanpa rahmat Allah.


[1] Distes OFM, Nico Syukur. 1988. Filsafat Kebebasan, 96

[2] Sutrisno, Mudji. 1992. Para Filsuf Penentu Gerak Zaman, 31
[3] Poedjawijatna. 1990. Pembimbing ke Arah Alam Filsafat, 79
[4] Sutrisno, Mudji. 1992. Para Filsuf Penentu Gerak Zaman, 31
[5] Ibid, 32
[6] Poedjawijatna. 1990. Pembimbing ke Arah Alam Filsafat, 78

1 komentar: