Selasa, 18 Desember 2012

Konsep Ketuhanan Menurut Aliran Deisme

Oleh : Hikmah Azizah Ayunita & Izrin Maudhatul Hasanah
A.  Pengertian Deisme
Kata deisme berasal dari bahasa latin deus yang berarti Tuhan. Dari akar kata ini kemudian menjadi dewa, bahkan kata Tuhan sendiri masih dianggap berasal dari deus. Menurut paham deisme, Tuhan berada jauh di luar alam. Tuhan menciptakan alam dan sesudah alam diciptakan, Ia tidak memperhatikan dan memelihara alam lagi. Alam berjalan sesuai dengan peraturan-peraturan yang telah ditetapkan ketika proses penciptaan. Peraturan-peraturan tersebut tidak berubah-ubah dan sangat sempurna.[1] Jadi deisme secara istilah, yaitu suatu aliran atau paham yang menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya dewa pencipta alam dan keberadaanya jauh di luar alam.
B. Konsep Ketuhanan Paham Deisme beserta Tokoh-tokohnya
Dalam paham deisme, alam bagaikan jam. Karena setelah Tuhan menciptakan alam, alam tidak butuh lagi kepada Tuhan dan alam berjalan menurut mekanisme yang telah diatur oleh Tuhan. Alasannya, alam berjalan sesuai dengan mekanisme yang tidak berubah-ubah, maka dalam paham deisme tidak terdapat mukjizat atau kejadian yang bertentangan dengan hukum alam.
Sejauh mana melemahnya keimanan manusia terhadap kekuasaan, pengaruh, dan keterlibatan langsung Allah secara langsung terhadap alam, sejauh itu pula melemah hubungannya dengan-Nya. Dan sejauh mana melemahnya hubungan dan kaitannya dengan Allah, sejauh itu pula melemah dirinya, kekuatannya, dan perjuangannya.[2]
Alam yang diciptakan oleh Tuhan terdiri atas manusia, hewan, dan tumbuhan. Diantara ketiganya itu yang paling mulia adalah manusia, karena manusia mempunyai akal yang satu-satunya digunakan untuk berfikir dan manusia memiliki keimanan untuk meyakinkan dirinya terhadap Tuhan. Dengan berfikir dan yakin, manusia dapat mengurus kehidupan yang ada di dunia, yaitu alam.
Paham deisme ini menggunakan alam sebagai bentuk ciptaan yang diciptakan oleh Tuhan. Karena alam merupakan salah satu bentuk eksistensi Tuhan. Tuhan mempunyai sifat yang abstrak, sehingga manusia tidak dapat melihat, tetapi manusia percaya terhadap eksistensi-Nya dari alam.        
Deisme mulai muncul pada abad ke 17, yang dipelopori oleh Newton (1642-1727). Menurutnya, Tuhan hanya pencipta alam dan jika ada kerusakan, alam tidak membutuhkan Tuhan untuk memperbaikinya karena alam sudah memiliki mekanisme sendiri untuk menjaga keseimbangan.[3]
Dengan munculnya kemajuan suatu ilmu pengetahuan, maka para ilmuan semakin yakin akan kebenaran dan keuniversalan hukum-hukum yang ada dalam ilmu pengetahuan yang tidak berubah. Akhirnya, para ilmuan beranggapan bahwa Tuhan sangat diperlukan untuk alam yang dapat berjalan dengan sendirinya semakin kecil. Semakin lama paham ini timbul bahwa Tuhan hanya menciptakan alam dan alam akan berjalan dengan sendirinya sesuai hukum-hukum yang ada dalam ilmu pengetahuan.     
Para penganut paham deisme ini sepakat bahwa Tuhan adalah Esa dan jauh dari alam, serta Tuhan memiliki sifat yang maha sempurna. Dan mereka juga sepakat bahwa Tuhan tidak melakukan intervensi pada alam lewat kekuatan yang supernatural. Karena tidak semua penganut paham deisme ini setuju tentang keterlibatan Tuhan terhadap alam dan keterlibatan Tuhan terhadap kehidupan sesudah mati.
Atas dasar perbedaan kesepakatan tersebut, deisme dapat dibagi menjadi empat tipe, yaitu:
1. Tuhan tidak terlibat dengan pengaturan alam. Tuhan menciptakan alam, tetapi Tuhan tidak menghiraukan segala sesuatu yang telah terjadi atau segala sesuatu yang akan terjadi setelah penciptaan.
2. Tuhan terlibat dengan kejadian-kejadian yang sedang berlangsung di alam, tetapi tidak mengenai perbuatan moral manusia. Manusia memiliki kebebasan bertindak dalam melakukan suatu perbuatan yang baik maupun yang buruk, jujur dan berbohong, dan lain sebagainya. Karena semua itu bukan urusan Tuhan.
3. Tuhan yang mengatur alam dan sekaligus memperhatikan perbuatan moral manusia. Bahwa sebenarnya, Tuhan ingin menegaskan kepada manusia untuk tunduk pada hukum moral yang telah ditetapkan oleh Tuhan di dunia. Karena manusia tidak akan hidup sesudah mati.
4.  Tuhan yang mengatur alam dan berharap kepada manusia supaya patuh terhadap hukum moral yang berasal dari alam. Hal ini merupakan pandangan suatu bentuk amal perbuatan yang dilakukan oleh manusia. Amerika dan Inggris banyak menganut pandangan tersebut.[4]           
Thomas Paine adalah salah seorang tokoh deisme yang militan. Tulisannya tentang politik “Common Sense” dan “The Rights of Man” sangat dipengaruhi oleh konsep deisme. Pemikiran Paine berpengaruh juga pada revolusi Prancis dan Amerika. Latar belakang pemikiran deisme Paine adalah karena dia melihat para pemimpin gereja sangat membelenggu umat. Karena itu, Paine menulis sebuah buku “The Age of Reason”, yang intinya menolak wahyu ilahi dan mengagungkan kemampuan akal.[5]   
Paine mengatakan bahwa dia percaya dengan Tuhan Esa, maha kuasa, maha mengetahui, dan maha sempurna. Dan dia juga menegaskan bahwa Tuhan tidak terbatas oleh akal, bahkan satu-satunya cara mengungkapkan Tuhan hanya dengan akal. Dia telah menolak adanya ilmu pengetahuan yang berasal dari wahyu. Karena menurut dia, katika wahyu dikaitkan dengan agama, maka ada pesan tersendiri dari Tuhan yang akan disampaikan kepada manusia. Namun, pesan itu hanya diwahyukan kepada orang tertentu saja, tidak kepada orang lain. Bahwa wahyu itu hanya diturunkan kepada dirinya bukan kepada orang lain. Oleh sebab itu, orang lain tidak wajib untuk mempercayai adanya wahyu. Pendapat Paine, yaitu bahwa wahyu Tuhan yang sebenarnya adalah manusia yang sudah dilengkapi oleh akal.
Paine juga menegaskan bahwa adanya wahyu itu mustahil, karena keterbatasan bahasa manusia untuk menangkap makna yang terdapat pada kandungannya. Wahyu Tuhan tidak berubah dan universal, sedangkan bahasa manusia tidak universal dan berubah. Manusia tidak mempunyai sarana dalam berkomunikasi dengan sesuatu yang tidak berubah. Paine menolak adanya wahyu yang terdapat pada setiap kelompok dalam agama, baik secara tertulis maupun secara lisan. Karena dia beranggapan bahwa semua kepercayaan itu hanya suatu penemuan manusia yang telah dibuat-buat.          
Paine berkomentar bahwa semua sistem yang terdapat pada agama tidak ada yang merendahkan derajat Tuhan dan tidak bermanfaat jika manusia menentang akal sebagai perangkat untuk berfikir.
C. Proses Awal Mengenal Tuhan
Awal Paine mengenal Tuhan dapat diketahui beberapa proses sebagai berikut:
1.                  Evolusi
Pada konsep ini manusia mengenal dan mulai mencari Tuhan melalui perkembangan secara evolusi. Kepercayaan yang beredar dikalangan masyarakat berkembang berdasarkan perkembangan dimensi waktu dan tempat. Pada tingkatan ini manusia mempercayai tentang sesuatu kekuatan tertentu yang memegang seluruh kendali dalam kehidupan.[6]
Dalam mengenal Tuhan, manusia harus mengetahui perkembangannya secara evolusi, yaitu:

·                     Animisme
Kepercayaan ini berasal dari bahasa latin anima yang berarti “roh”. Animisme adalah kepercayaan terhadap makhluk halus atau roh nenek moyang yang diyakini oleh sebagian besar masyarakat primitif.
·                     Dinamisme
Dinamisme berasal dari bahasa Yunani dunamos yang berarti daya, kekuatan atau kekuasaan. Kepercayaan dinamisme merupakan salah satu kepercayaan yang marak terjadi pada masa prasejarah. Kehidupan pada masa tersebut, mencipkakan kepribadian yang selalu membutuhkan suatu kekuatan super diluar tubuh manusia itu sendiri.
·                     Politheisme
Bangsa di dunia yang menganut kepercayaan potheisme adalah bangsa Yunani. Dalam kehidupan masyarakatnya mereka mengenal kekutan luar biasa yang berada dalam wujud dewa. Bangsa Yunani meyakini banyak dewa.
·                     Monotheisme
Monoteisme berasal dari kata Yunani, monon yang berarti tunggal dan Theos yang berarti Tuhan. Monotheisme adalah kepercayaan bahwa Tuhan itu tunggal dan berkuasa penuh atas segala sesuatu. Kebanyakan kaum monoteis akan mengatakan bahwa monoteisme pasti berlawanan dengan politeisme. Namun pada kenyataannya, pemeluk politeisme sering berlaku selayaknya kaum moteisme. Ini disebabkan karena keyakinan akan tuhan yang banyak itu tidak berarti bahwa mereka menyembah banyak tuhan.[7] Yang termasuk di dalam motheisme adalah :
Ø    Theisme
Ø    Deisme
Ø    Panteisme


2.                  Relevasi
Pencarian akan sosok Tuhan dilakukan dengan cara melihat dan mempelajari wahyu-wahyu yang diturunkan. Misalnya dalam islam, hal ini dipelajari melalui wahyu Allah yang diberikan melalui para Nabi dan Rasul. Salah satu contohnya adalah Nabi Adam as Adam merupakan manusia pertama yang diciptakan Allah untuk menghuni dunia. Diciptakan dari tanah, Adam menghuni surga dan dititahkan untuk dihormati oleh para penghuni surga lainnya. Adam beristrikan seorang wanita bernama Hawa. Secara historik, mereka berdua diusir dari surga karena berbohong dan melanggar janji yang telah disepakati. Islam, Yahudi dan Kristen dapat disebut sebagai agama Abrahamik karena ketiga agama tersebut meyakini keberadaan nabi Adam walaupun antara ketiganya terdapat perbadaan kisah. Akan tetapi terdapat kesamaan yaitu, semua agama mengimani bahwa Adam merupakan nenek moyang seluruh umat manusia.
3.                  Eksistensi
Eksistensi merupakan proses pencarian Tuhan berdasarkan keberadaan Tuhan. Sebagian besar pola pikiran manusia adalah meyakini sesuatu yang secara langsung dapat dirasakan melaliu indera. Hal ini pula yang diterapkan beberapa kelompok manusia dalam proses pencarian Tuhan. Yang termasuk keyakinan ini antara lain:
·                    Theisme istilah yang mengacu kepada keyakinan akan Tuhan yang 'pribadi', artinya satu tuhan dengan kepribadian yang khas, dan bukan sekadar suatu kekuatan ilahi saja.
·                    Deisme adalah bentuk monoteisme yang meyakini bahwa Tuhan itu ada. Akan tetapi, seorang deis (sebutan untuk pemeluk deisme) menolak gagasan bahwa tuhan ini ikut campur di dalam dunia. Jadi, deisme menolak wahyu yang khusus termasuk tidak meyakini peraturan-peraturan yang terdapat di dalam kitab suci.
·                    Panteisme Kaum ini berpendapat bahwa alam sendiri itulah Tuhan. Jadi keberadaan Tuhan tidak terbatas bisa dimana saja.
·                    Sekularisme suatu kepercayaan bahwa ajaran tuhan ini hanya sebatas menyangkut hubungan antar manusia dan Tuhan.
·                    Pluralisme
Keyakinan pluralisme adalah keyakinan yang mengimani adanya Tuhan bersama dengan semua agama yang ada. Dalam keyakinan ini, agama mempunyai konsep yang sangat luas dan penerimaannya secara universal kepada semua agama-agama yang berbeda.[8]
4.                  Sekterian
Sekterian dibagi menjadi tiga, yaitu:
a.                   Utilitarianisme
Utilitarianisme adalah sebuah teori yang secar berturut-turut dikembangkan dan disempurnakan oleh David Hume, Jeremy Bentham, James Mill dan John Stuart Mill. Dalam pemahaman ini, setiap manusia diajarkan untuk meraih (kenikmatan) terbesar untuk orang terbanyak. Kenikmatan dinilai sebagai satu-satunya kebaikan yang nyata sedangkan penderitaan dinilai sebgai kejahatan intrinsik. Keyakinan menurut paham ini bukan persoalan taat atau tidaknya seseorang pada seseorang akan tetapi lebih mengarah pada seberapa besar usaha seseorang untuk menciptakan kebahagiaan tanpa batas untuk orang semua makhluk Tuhan.
b.                  Hedonisme
Kata Hedonisme sendiri beasal dari kata Yunani yang bermakna kesenangan. Epicurus, tokoh utama Hedonisme yang percaya bahwa manusia seharusnya mencari berbagai kesenangan, kebahagiaan dan kenikmatan pikiran ketimbang tubuh. Menurut Epicurus, orang bijak harus menghindari berbagai kesenangan yang akhirnya akan berujung pada penderitaan. Sekali lagi Hedonisme adalah pandangan hidup yang menjadikan kesenangan sebagi tujuan utama dari kehidupan. Bagi penganut paham ini hidup hanya satu kali sehingga barang siapa yang tidak memanfaatkannya maka dia termasuk orang yang merugi.
c.                   Vitalisme
Dalam pandangan ini kebahagiaan yang terletak pada kemenangan atau kekuatan yang menimbulkan kemenangan.[9]
D. Analisa
                 Menurut analisa kami, bahwa aliran deisme ini mempelajari tentang Tuhan. Tuhan merupakan satu-satunya pencipta alam dan jika terjadi kerusakan di alam maka Tuhan tidak ikut campur, karena alam sudah memiliki mekanisme tersendiri dalam mengatur alam.
            Berbicara tentang konsep ketuhanan dan para tokohnya , yaitu aliran deisme ini dipelopori oleh Newton dan pemikirannya dikembangkan oleh Thomas Paine. Paine menganggap bahwa ia percaya dengan Tuhan Esa dan ia mengatakan bahwa Tuhan tidak terbatas oleh akal, bahkan satu-satunya cara mengungkapkan Tuhan hanya dengan akal.
            Menurut Paine, dalam mengenal Tuhan, manusia harus melalui proses terlebih dahulu. Proses ini diantaranya, yaitu evolusi, relevasi, eksistensi, dan sekterian. Dari keempat proses ini, semuanya mempunyai macam-macam cara pembagian tersendiri. Seperti yang sudah dijelaskan di atas.


[1]Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), 88
[2]Muhsin Assegaf, Dua Wajah Tuhan (Jakarta: Pustaka Zahra, 2005), 39
[3]Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), 89  
[4]Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), 90
[5]Ibid, 90-91
[6]http//scribd.com/doc/12898353/proses-mengenal-Tuhan, Senin: 09.25
[7]Ibid,…
[8]Ibid,…
[9]Karen Armstrong, Sejarah Tuhan  (Bandung: PT. Mizan Pustaka,1993). 15

Tidak ada komentar:

Posting Komentar