Selasa, 15 Januari 2013

Sejarah dan latar Belakang Filsafat Abad Pertengahan

Oleh : Haniatus Shalikhah

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
            Filsafat merupakan paduan dari Bahasa Arab yaitu “falsafah” dan Bahasa Inggris “philosophy”. Kata Filsafat sendiri berasal dari Bahasa Yunani “Philosophia”, yakni gabungan dari kata “philos” yang artinya cinta, dan “sophos” berarti kebijaksanaan, dengan kata lain filsafat adalah cinta pada kebijaksanaan,[1]kearifan atau pengetahuan (wisdom). Secara etimologi filsafah berarti cinta kepada kebijaksanaan, kearifan atau pengetahuan (love of wisdom).[2]
            Filsafat lebih dikenal sebagai ilmu yang mencari hakikat dari segala sesuatu yang ada. Selain itu filsafat juga dapat dikatakan sebagai metode/cara yang radikal hendak mencari keterangan yang terdalam tentang segala sesuatu yang ada.[3] Sehingga  filsafat adalah awal dimana manusia mulai mengembangkan berbagai jenis ilmu. Dari serangkaian proses tersebut maka wajar dikatakan bahwa filsafat adalah induk dari segala apa yang ada.
            Filsafat sendiri dibagi menjadi beberapa periode, yaitu periode kuno, klasik, abad pertengahan, modern, dan masa kini. Dapat dikatakan pada awal kemunculan filsafat, para tokoh-tokohnya lebih tertarik pada alam atau lebih bersifat cosmosentris. Kemudian menginjak zaman klasik, pemikiran para tokoh-tokohnya tidaka lagi bersifat cosmosentris, namun lebih condong pada etika manusia. Pada masa ini,  terjadi peristiwa dialek antara kaum sophis dengan socrates. Sedangkan pada abad pertengahan, para tokoh-tokohnya tidak lagi membicarakan hal-hal mengenai alam dan manusia melainkan pada Tuhan atau bercorak Theosentris.
            Awal munculnya filsafat barat abad pertengahan adalah dari pengaruh Neo-platonisme yang ingin kembali kepada Tuhan. Namun Yang berjaya pada masa itu bukan hanya pengaruh dari Neo-platonisme tetapi juga ada beberapa yang terpengaruh oleh pemikiran Aristoteles. Untuk lebih lanjut akan dibahas pada bab-bab selanjutnya.



B. Permasalahan
            Adapun masalah-masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1.      Bagaimana sejarah dan latar belakang filsafat barat abad pertengahan?
2.      Apa yang menjadi fokus pada masa filsafat barat abad pertengahan?


C. Tujuan
            Dibuatnya makalah ini bertujuan untuk:
1.      Untuk mengetahui sejarah dan latar belakang filsafat barat abad pertengahan.
2.      Untuk mengetahui apa yang menjadifokus pada masa filsafat barat abad pertengahan.





BAB II
SEJARAH dan LATAR BELAKANG

A.           Masa Sebelum Abad Pertengahan
Filsafat Barat sebelum memasuki abad pertengahan mengalami pemberhentian untuk waktu yang cukup lama. Hal itu dikarenakan perkembangan ilmu pada waktu itu terhambat seiring dengan kekacauan pada abad ke-6 dan ke-7. Hal itu didukung dengan kenyataan  bahwa pada tahun 529, sekolah-sekolah filsafat di Athena yang resmi mengajarkan aliran Yunani kuno ditutup oleh Kaisar Justianus. Sejak itu harus dikatakan bahwa dengan resmi tertutuplah sumber Yunani yang mengakhirkan filsafat.[4] Saat itu, terjadi perpindahan bangsa-bangsa sehingga muncul serangan-serangan bangsa-bangsa yang masih belum beradab terhadap kerajaan Romawi, sehingga kerajaan Romawi runtuh. Hal itu sangat bertentangan dengan keadaan filsafat sebelumnya. Misalnya saja, pada zaman kuno, awal munculnya filsafat terdapat banyak tokoh yang bermunculan dengan berbagai pemikiran-pemikirannya. Seperti, Thales dengan pemikirannya bahwa air adalah unsur inti, Anaximander dengan apeiron (yang terbatas) sebagai unsur inti, maupun Anaximenes, Pythagoras, Heraklitos, dan Parmenides dengan pemikirannya masing-masing. Setelah zaman kuno pun, filsafat mengalami perkembangan yang cukup pesat. Fokus yang dibahas bukan lagi masalah alam tetapi tentang manusia dan etika. Zaman ini disebut dengan zaman klasik. Pada zaman ini muncul tokoh-tokoh besar yang juga memilki pengaruh besar terhadap filsafat maupun selain filsafat barat serta berpengaruh besar pada masa setelahnya.
Pada zaman klasik, muncul kaum shopis yang menggunakan kebenaran subjektif dan keunggulan retorika sebagai ajaran yang diajarkan kepada pemuda-pemuda. Sebagai akibatnya, maka ukuran kebenaran menjadi relatif dan subjektif.[5] Disaat itu  muncullah Socrates yang menyatakan bahwa akal budi harus menjadi norma terpenting untuk kita,[6] selain itu utuk menentang kaum shopis, socrates menggunakan metode dialektik hingga akhirnya dai dihukum mati. Namun muruid-muridnya memiliki peran yang cukup besar juga pada masa itu seperti Plato yang menggunakan dunia ide, dan ada juga tokoh Aristoteles yang menggunakan angka sebagai kebenaran relatif. Setelah zaman socrates berakhir, zaman heleinisme dimulai, dimana ketika itu muncul aliran filsafat seperti stoisme,epikurus, dan Neo-platonisme. Untuk aliran Neo-platonisme ini, mereka ingin kembali pada ajaran Tuhan. Baru kemudian filsafat sedikit demi sedikit mengalami kemunduran hingga akhirnya berhenti untuk waktu yang cukup lama.


B.            Kemununculan Filsafat Abad Pertengahan
Filsafat Barat pada abad pertengahan sendiri merupakan suatu arah pemikiran yang berbeda sekali dengan arah pemikiran dunia kuno.[7] Filsafat barat abad pertengahan masih bergerak dalam belenggu kekuasaan teologi dan iman kristen (Theosentris). Filsafat barat abad pertengahan dibagi menjadi 2 zaman yaitu, zaman pateristik dan zaman scholastik.
1.      Zaman Pateristik
Zaman pateristik adalah zaman dimana kristiani berkembang pesat. Pateristik berasal dari kata “patres’, “bapa-bapa Gereja”[8]  Bapa-bapa Gereja merupakan bukti adanya pengaruh plotinus dengan tujuan memperlihatkan bahwa iman sesuai dengan pikiran-pikiran paling penting dalam manusia. Adapun tokoh-tokoh pateristik diantaranya adalah Clemens dari Aleksandria dan Agustinus.
2.      Zaman Scholastik
Zaman Scholastik terdiri atas agama atau kepercayaan. Ketika Karel Agung berkuasa di Eropa, kembalilah ketentraman yang agak lama. Sekolah-sekolah didirikan pada zaman ini. Hal itu dikarenakan tersebarnya agama Katolikdan terdapat pola organisasi yang teratur (baik dalam penyebaran maupun memperdalam agamanya).[9] sekolah-sekolah ini ajaran yang digunakan adalah ajaran lama yang disebut artes liberales (seni merdeka). Sedangkan yang meliputi ajaran artes adalah grammatika, dialektika, astronomia, geometria, aritmatika. Pada zaman scholastik muncul kaum shopis yang mengajarkan kepada pemuda-pemuda tentang kebenaran subjektif dan keunggulan retorika yang kemudian ditentang oleh socrates dengan berdialog yang lebih dikenal dengan dialektika.

            Pada abad ke-11lambat laun ada perubahan-perubahan, yaitu bahwa dialektika(usaha mendapatkan pengenalan dengan cara berfikir) makin menonjolkan diri, dan gejola rasionalis tampak di dalam pemikiran teologis.[10] Selain itu pada abad ini juga terjadi pertentangan tentang apa yang dimaksudkan dengan universal. Maksudnya adalah apakah kebenaran umum itu adalah benar-benar kenyataan ataukah kebeneran yang hanya diturunkan dari pemikiran-pemikiran manusia itu sendiri

C.           Hubungan Filsuf Arab dengan kemunculan Filsafat Barat Abad Pertengahan

Banyak buku-buku warisan Yunani yang dibawa orang ke dunia Eropa mengakibatkan banyak buku-buku Yunani yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab, bahkan seringkali dalam penerjemahannya banyak dibubuhi keterangan-keterangan penerjemah sendiri yang juga merupakan seorang pemikir. Buku-buku warisan Yunani terutama warisan Aristoteles. Adapun filsuf-filsuf Arab yang terkenal di Benua Eropa adalah:
a)    Ibn Sina (avicenna 1037)
b)   Ibnu Rusyd (Averroes 1126-1198)
c)    Mozes bin Maimun (Mozes Maimonioes 1135-1204)
            Dalam dunia filsafat, pemikiran Ibn Rusyd sangat dipengaruhi oleh pemikiran aristoteles. Hal itu dianggap wajar karena ia banyak menghabiskan waktunya untuk meneliti dan membuat komentar-komentar terhadap karya-karya Aristoteles dalam berbagai bidang, sehingga ia diberi gelar Syafih (sang komentator) dan Aristoteles disebut sebagai sang filsuf.[11] Jika digambarkan dengan bagan maka, akan terlihat seperti ini. Lihat lampi

D.                Tuhan di Abad Pertengahan
            Seperti yang sempat dibahas sebelumnya, pada abad pertengahan ini filsafat ingin kembali pada Tuhan. Hubungan iman dan juga akal adalah salah satu yang dibahas pada filsafat abad pertengahan. Pada abad ke-11 timbul pertentangan antara kaum intelektualis dengan kaum anti intelektualis. Dengan terdesaknya persoalan-persoalan filsafat oleh persoalan keagamaan mengakibatkan orang berfikir “segala pengetahuan atau pengenalan yang benar, hanya diperoleh dengan wahyu, yaitu pemberitahuan Allah secara langsung.”[12] Selain itu disepanjang abad pertengahan, para ahli fikir meyakini bahwa satu-satunya sumber pengetahuan yang benar-benar dapat dipercaya adalah iman. Baru pada abad ke-13 ada perubahan karena karya Thomas Aquinas. Baginya percaya dan berfikir, iman dan filsafat sudah memilki tempatnya sendiri-sendiri. Pengaruh agama yang sangat kuat pada abad pertengahan ini memiliki dampak negatif pada kebebasan berfikir, sehingga pada masa ini dikenal dengan masa kegelapan.[13] Namun tidak semua ahli pikir mematuhinya, ada juga yang melanggar.
           



BAB III
PENUTUP

A.           Kesimpulan
            Dari bab-bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa filsafat barat abad pertengahan muncul karena pengaruh dari Neo-platonisme dan juga karena filsafat mulai bangkit setalah berhenti untuk waktu yang cukup lama. Selain itu pengaruh Aristoteles juga cukup besar. Aristoteles kembali muncul karena peran filsuf-filsuf Arab terutama Ibnu Sina, sehingga mereka dijuluki sebagai sang filsuf (Aristoteles) dan juga sang komentator (Ibn Sina). Hal itu menandakan adanya pengaruh dari luar juga.
            Adapun faktor dalam yang mempengaruhi munculnya filsafat barat abad pertengahan adalah keberhasilan pemerintahan Karel Agung, sehingga budaya, ilmu pengetahuan, dan kesenian mulai bangkit, serta filsafat mulai diperhatikan. Semakin berjalannya waktu, semakin berkembang pula-lah filsafat barat abad pertengahan. Namun abad pertengahan juga disebut sebagai zaman kegelapan. Karena, tidak dapat mengembangkan pemikirannya selain tentang agama.


B.            Saran
            Untuk menambah literatur para pembaca, maka diharap untuk bisa membaca buku dengan referensi yang berbeda agar dapat membandingkan dengan apa yang sudah ada dalam makalah ini. Sekiranya ada yang salah ataupun kurang dalam makalah ini, diharap para pembaca untuk dapat memperbaiki pada referensi berikutnya.



DAFTAR PUSTAKA

Tim Penyusun MKD IAIN Sunan ampel Surabaya. 2011.  Pengantar Filsafat. Surabaya. IAIN Sunan Ampel Press
Burhanuddin Slam. 1995.  Pengantar Filsafat. Jakarta. Bumi Aksara
Jan Hendrik Rapar.1996. Pengantar Filsafat.Yogyakarta. Kanisius
Poedjawijatna.1990. Pembimbing ke Arah Alam Filsafat. Jakarta. Rineka cipta
Harun Hadiwijono. 1980. Sari sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta. Kanisius
Hasyimsyah Nasution. 1999. Filsafat Islam. Jakarta. Gaya Media Pratama
Darji Darmodiharjo.1995. Pokok-pokok filsafat hukum. Jakarta. Gramedia pustaka utama



[1] Tim Penyusun MKD IAIN Sunan ampel Surabaya, Pengantar Filsafat (Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press, 2011), 2 Lihat juga Burhanuddin Slam, Pengantar Filsafat (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), 46
[2] Ibid,1 Lihat juga Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat, ( Yogyakarta: Kanisius, 1996), 14
[3] Ibid,5
[4] Poedjawijatna, Pembimbing ke Arah Alam Filsafat (Jakarta: Rineka cipta, 1990), 81
[5] Tim penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya, Ibid, 20
[6] Ibid,25
[7] Harun Hadiwijono, Sari sejarah Filsafat Barat (Yogyakarta: Kanisius, 1980),
[8]Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya, Ibid, 25
[9] Poedjawijatna, Ibid,81
[10] Harun Hadiwijono,Ibid,91
[11] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam (Jakarta:Gaya Media Pratama,1999), 115
[12] Harun Hadiwijono, Ibid,91
[13] Darji Darmodiharjo, Pokok-pokok filsafat hukum (Jakarta:Gramedia pustaka utama,1995),59

Tidak ada komentar:

Posting Komentar