Senin, 14 Januari 2013

Akhlak Mahmudah

Oleh : Siti Alinda

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Akhlak ialah instuisi yang bersemayam di hati tempat munculnya tindakan-tindakan suka rela, tindakan yang benar atau yang salah. Menurut tabiatnya, instuisi tersebut siap menerima pengaruh pembinaan yang baik, atau pembinaan salah kepadanya. Jika instuisi tersebut dibina untuk memilih keutamaan, kebenaran, cinta kebaikan, cinta keindahan, dan benci keburukan, maka itu menjadi trade-mark-nya dan perbuatan-perbuatan baik muncul daripadanya dengan mudah. Itulah akhlak yang baik, misalnya akhlaq lemah lembut, akhlaq sabar, akhlaq dermawan, akhlaq berani, akhlak adil, akhlak berbuat baik, dan lain sebagainya dari akhlak-akhlak yang baik, dan penyempurnaan diri. Dan dalam makalah ini akan mengupas banyak hal yang bersangkutan tentang tingkah laku yang terpuji.

B.     Rumusan Masalah
1)      Bagaimanakah akhlak yang baik itu?
2)      Apa saja dampak kejujuran dalam hidup sehari-hari?
3)      Siapakah orang yang paling berhak untuk dihormati?
4)      Kenapa harus berbuat baik kepada tetangga?

C.    Tujuan
1)      Menjelaskan tentang akhlak yang baik.
2)      Kejujuran akan mendapatkan dampak yang bagus.
3)      Agar lebih memahami siapakah orang yang paling behak dihormati.
4)      Agar mehami bagaimana kita harus berbuat baik kepada tetangga.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Orang yang Baik adalah Orang yang Baik Akhlaqnya
Menurut pengertian asal katanya (menurut bahasa) kata “Akhlak” berasal dari kata jamak bahasa Arab “Akhlaq”. Kata mufradnya ialah “khuluqu” yang berarti:
a.       Sajiyyah          =      Perangai
b.      Muruu-ah        =      Budi
c.       Thab’u             =      Tabiat
d.      Adaab             =      Adab
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu:
Beliau berkata: Rasulullah saw. pernah ditanya tentang sebab paling banyak yang mengakibatkan orang masuk surga? Beliau menjawab: “Takwa kepada Allah dan akhlak yang Mulia”.
1.      Berakhlak Mulia kepada Allah
Senang tiasa ridha terhadap ketetapan hukum-Nya baik yang berupa aturan syari’at maupun ketetapan takdir, menerimanya dengan lapang dada, tidak berputus asa maupun bersedih dengan diucapkan dengan lisan dan hatinya, Radhitu billahi rabban (aku ridha Allah sebagai Rabb).
2.      Berakhlak Mulia kepada Makhluk
a.       Kafful adza (menahan diri dari mengganggu), yaitu dengan tidak mengganggu sesame, baik melalui ucapan maupun perbuatannya.
b.      Badzlu nada (memberikan kebaikan yang dipunyai), yaitu rela memberikan apa yang dimilikinya berupa harta atau ilmu atau kedudukan dan kebaikan lainnya.
c.       Thalaqatul wajhi (bermuka berseri-seri atau  ramah), adalah dengan cara memasang wajah berseri apabila berjumpa dengan sesama, tidak bermuka masam atau memalingkan pipi, inilah khusnul khuluq.
Orang yang dapat melakukan ketiga hal tersebut niscaya dia akan bisa bersabar menghadapi gangguan yang ditimpakan manusia kepadanya, sebab bersabar menghadapi gangguan mereka termasuk khusnuk khuluq juga. Bahkan jika dia mengharapkan pahala dan Allah atas kesabarannya tentukan itu akan menambahkan kebaikan disisi Allah Ta’ala.[1]
Akhlak yang penting bagi setiap insan. Akhlak yang baik mencerminkan pribadi yang baik manakala akhlak yang buruk sebaliknya.
Seperti Rasulullah saw. sebagai contoh yang paling baik karena baginda adalah orang yang paling baik akhlaknya, Allah telah sebutkan dalam firman-Nya:
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung”.
Hal ini sesuai dengan penuturan Aisyah:
 “Rasulullah saw. adalah orang yang baik akhlaknya”.
B.   Kejujuran Membawa kepada Kebajikan
حَدِيثُ عَبْدِ الله بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «إنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى البِرِّ، وَإِنَّ البِرَّ يَهْدِي إِلَى الجَنَّةِ، وإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا. وَإِنَّ الكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الفُجُورِ، وَإِنَّ الفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ الله كَذَّابًا».
[1675] Abdullah bin Mas'uud r.a. berkata: Nabi saw. bersabda: Sesungguhny benar (jujur) itu menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu menuntun ke sorga, dan seseorang itu berlaku benar sehingga tercatat di sisi Allah seorang siddiq (yang sangat jujur benar). Dan dusta menuntun kepada lancung, dan lancung (curang) itu menuntun ke dalam neraka. Dan seorang itu berdusta sehingga tercatat di sisi Allah sebagai pendusta. (Bukhari. Muslim).
            Seorang muslim sepatutnya bersikap jujur kepada sesama karean agamanya mengajarkan bahwa nilai kejujuran merupakan modal dari segala anugerah dan sumber dari kemuliaan akhlak. Dia menjadi pemadu ke jalan yang akan membawanya ke taman surga. Sebaliknya, kedustaan bisa menjerumuskan pelakunya ke dalam kenistaan neraka. Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya, kejujuran membawa kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu akan membimbing ke surga. Sesungguhnya, seorang laki-laki yang jujur akan dicatat sebagai hamba yang jujur disisi Allah. Sesungguhnya kedustaan itu akan membawa kepada kejahatan dan kejahatan membimbingnya e neraka. Adapun laki-laki yang berdusta akan dicatat sebagai hamba pendusta disisi Allah” (Muttafaq Alaih).
Seorang muslim sepatutnya bersikap jujur, baik dalam perkataan maupun perbuatan.
Allah menyuruh kita bersikap jujur dan Allah memuji sikap ini. Seperti yang tersebut dalam firman Allah berikut:
 “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”.[2]
Nabi saw bersabda:
            “Hendaknya kalian bersikap jujur, karena jujur menunjukkan seorang kepada kebajikan, dan kebajikan menunjukkan seoang ke surge. Dan tidaklah seorang selalu bersikap jujur sampai ia ditulis di sisi Allah sebagai seoang yang jujur”.[3]
            Bersikap jujur adalah jika seorang melaporkan segala sesuatu dengan benar dan laporannya tidak ditambah atau dikurangi. Dan laporannya bukan dengan tutur kata saja, tetapi dengan perbuatan, berupa isyarat tangan atau kepala atau diam.
            Ibnu Hibban berkata, “Bersikap jujur mengangkat seorang ke tingkat atas di dunia dan di akhirat. Demikian pula, bersikap tidak jujur menjatuhkan seorang ke bawah di dunia dan di akhirat.”
            Imam Syafi’I berkata, “Sarana untuk mencapai kedudukan ada lima, berkata yang jujur, menyembunyikan rahasia, memenuhi janji, mendahului nasehat dan menyampaikan amanat”.
Ada beberapa sifat yang dapat menolong seorang untuk bersikap jujur, diantaranya:
1.      Berdo’a untuk selalu bersiakap jujur.
2.      Selalu merasa dilihat oleh Allah.
3.      Membiasakan berlaku jujur.
4.      Memperhitungkan berbagai hasil sikap jujur.
5.      Bergaul dengan orang-orang yang jujur.
6.      Banyak membaca al-Qur’an dan memahami kandungannya, karena al-Qur’an selalu mengajak manusia ke jalan yang benar.
Bersikap jujur akan mendapatkan dampak positif yang banyak, diantaranya:
1.      Pelakunya dikenal sebagai seorang yang mulia. Karena budi pekertinya bagus, bersih, berkemauan tinggi dan jenius.
2.      Kehidupannya mapan. Karena pelakunya dikenal sebagai seorang yang jujur, sehingga orang tidak ragu untuk berbisnis dengannya, percaya kepada tutur kata dan pendapatnya, nasehatnya diterima orang dan semua orang ingin bergaul dengannya.
3.      Berhati bersih. Seorang yang jujur, hatinya selalu tenang dan merasa aman, karena ia tidak pernah bohong kepada orang lain.
4.      Berjiwa mulia. Seoang yang jujur tidak pernah grogi, karena ia selalu bertindak tanduk dan bertutur kata yang benar terhadap orang lain.
5.      Berani dan percaya diri. Seorang yang jujur berjalan dengan langkah yang mapan dan percaya diri, karena ia merasa bahwa apa yang ada di hatinya tidak berbeda dengan yang ada diluarnya.

C.   Orang yang Paling Berhak Dihormati
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimint berkata, “Orang yang paling baik terhadap keluarganya, karena keluarga adalah orang yang terdekat dengan dan paling berhak mendapatkan kebaikan. Jika engkau memiliki suatu kebaikan, hendaknya keluargamu yang paling merasakan kebaikan itu.
Hal ini berkebalikan dengan perbuatan sebagian orang dizaman sekarang ini. Ada orang yang berbuat buruk terhadap keluarganya, namun bisa berbuat baik tehadap orang lain. Ini adalah kesalahan yang sangat besar. Semestinya, keluarga adalah orang-orang yang paling berhak menerima kebaikan dari anggota keluarganya, karena bersamanya pada waktu malam dan siang, baik dalam keadaan sepi maupun ramai. Jika engkau berbahagia, merekapun akan bersama dalam kebaikanmu begitulah sebaliknya. Hendaknya muamalahmu kepada mereka lebih baik dibandingkan kepada selainnya.
Ibu Lebih di Utamakan
حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم، فَقَالَ: يَا رَسُولَ الله! مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: «أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ «ثُمَّ أَبُوكَ».
[1652] Abuhurairah r.a. berkata: Seorang datang kepada Nabi saw. dan berkata: Ya Rasulullah, siapakah yang berhak aku layani? Jawab Nabi saw: Ibumu. Ditanya; Kemudian siapakah? Jawab Nabi saw: Ibumu. Ditanya: Kemudian siapakah? Jawab Nabi saw: Ibumu. Ditanya, kemudian siapakah? Jawab Nabi saw: Ayahmu. (Bukhari, Muslim).
            Islam mengajurkan bebuat baik kepada oang tua secara adil untuk tidak membedakan persepsi seorang anak terhadap salah satu dari kedua orang tuanya.
Hadits ini menjadi konfirmasi dari Rasulullah bahwa berbakti kepada Ibu lebih didahulukan daipada Ayah. Para sahabat pun mempekuat  hal yang sama sehingga sangat beralasan jika berbakti kepada orang tua dikategorikan oleh Ibnu Abbas r.a. sebagai perbuatan yang paling dicintai Allah.
Al-Qur’an menanamkan kesadaran kepada kita untuk berbuat baik kepada orang tua. Hamil dan menyusui sebagai kodrat wanita itulah yang menjadikan kita harus berbakti terhadap Ibu Bapak.
Seorang Muslim dengan Tetangganya
Bersikap baik kepada tetangga
حديث أَبي شُرَيْحٍ الْعَدَوِيّ قَالَ: سَمِعَتْ أُذُنَايَ وَأَبْصَرَتْ عَيْنَايَ حِينَ تَكَلَّمَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم، فَقَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جائِزَتُهُ، قَالَ: وَما جاِئِزَتُهُ يا رَسُولَ اللهِ قالَ: يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ، وَالضِّيافَةُ َثلاثَةُ أَيَّامٍ فَما كانَ َوراءَ ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ َعلَيْهِ، وَمَنْ كانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ أخرجه البخاري في: 78 كتاب الأدب: 31 باب من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يؤذ جاره
[30] Abu Syuraih Al-Adawy r.a. berkata: Telah mendengar kedua telingdku, juga telah melihat kedua mataku ketika Nabi saw. bersabda: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, maka harus menghonnat tetangganya. Dan siapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian maka harus menghormat tamunya ja'izahnya. Sahabat bertanya: Apakah ja'izahnya itu ya Rasulullah? Jawab Nabi saw.: Ja'izahnya itu ialah hidangan jamuan pada hari pertama (sehari semalam). Dan hidangan dhiyafah (tamu) itu hingga tiga hari, dan selebihnya dari itu, maka dianggap sedekah. Dan siapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, maka harus berkata baik atau diam. (Bukhari, Muslim).
Seorang muslim yang berpikir baik dan melaksanakan hukum-hukum agamanya adalah oang yang bergaul dengan baik kepada tetangganya, banyak berbuat baik, serta menaruh simpati kepada mereka.
Tetangga dekat adalah tetangga yang mempunyai hubungan keturunan atau satu agama, sedangkan tetangga jauh adalah tetangga yang tidak mempunyai hubungan keturunan atau seagama. Adapun teman sejawat adalah oang yang mempunyai ikatan dalam persoalan-persoalan yang positif. Di sinilah ajaran Islam yang manusiawi dan toleransi menerapkan penghormatan kepada tetangga dari berbagai segi.
Berbuat baik kepada tetangganya sesuai dengan kemampuannya. Dia tidak akan menganggap remehan kebaikan-kebaikan kecil yang diberikan kepada tetangganya sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang bodoh karena jika dia menganggap kecil suatu kebaikan, maka ia akan enggan berbuat baik kepada tetangganya dan akhirnya akan menghalangi dirinya dan tetangganaya untuk berbuat baik. Masalah inilah yang diingatkan Rasulullah, khususnya kepada kaum wanita karena banyak kaum wanita yang merasa malu memberikan sesuatu yang benilai kecil kepada tetangganya. Nabi besabda kepada kaum muslimah:
“Janganlah sekali-kali seseorang menghina atas pemberian tetangganya, walaupun beupa kuku kambing” (Muttafaq Alaih).

Allah berfirman:
 “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zaah pun, niscaya dia akan melihat (balas)nya” (Q.S. Az Zalzalah: 7).
Rasulullah bersabda:
 “Hindarkanlah dirimu dari api neraka sekalipun karena mencuri separo buah kurma” (H.R. Bukhari).
Rasulullah memperkuat prinsip akhlak Islam dalam haditsnya:
 “Tidak dianggap bersyukur kepada Allah, orang yang tidak mau berterima kasih kepada manusia” (H.R. Bukhari).





BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Akhlak yang penting bagi setiap insan. Akhlak yang baik mencerminkan pribadi yang baik manakala akhlak yang buruk sebaliknya.
Bersikap jujur adalah jika seorang melaporkan segala sesuatu dengan benar dan laporannya tidak ditambah atau dikurangi. Dan laporannya bukan dengan tutur kata saja, tetapi dengan perbuatan, berupa isyarat tangan atau kepala atau diam.
Al-Qur’an menanamkan kesadaran kepada kita untuk berbuat baik kepada orang tua. Hamil dan menyusui sebagai kodrat wanita itulah yang menjadikan kita harus berbakti terhadap Ibu Bapak.
Tetangga dekat adalah tetangga yang mempunyai hubungan keturunan atau satu agama, sedangkan tetangga jauh adalah tetangga yang tidak mempunyai hubungan keturunan atau seagama


  

DAFTAR PUSTAKA
Muhammad Fu’ad, dkk, Terjemahan Al Lu’lu’ Marjan, Surabaya: Al-Ikhlas, 1993.
Adl-Dlarman, Abdurrahman bin Sa’ad, Fiqih Pekerja. Penerbit Pustaka Anisam, 2005.
Al-Hasyimi, M. Ali. Soso Pria Muslmim. Bandung: Trigenda Karya, 1997.
Masyur, Kahar. Membina Moral dan Akhlak. Jakarta: PT Rineka Cipta, 1994.


[1] Riyadhus Shalihin Syaikh al-Utsaimin, 11/387.
[2] QS. At Taubah, 119.
[3] Muslim (1974).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar