Selasa, 18 Desember 2012

TANGGUNG JAWAB MENUNTUT PENGETAHUAN

oleh : Hikmah Azizah Ayunita


A.                          Hasad yang diperbolehkan
Hasad yaitu sikap benci dan tidak senang terhadap apa yang dilihatnya berupa baiknya keadaan orang yang tidak disukainya.
Adapun juga pendapat para ulama’ mendefinisikan hasad diantaranya, yaitu:
1.    Menurut imam  al-Ghazali hasad ialah membenci nikmatAllah SWT yang ada pada diri orang lain, serta menyukai hilangnya nikmat tersebut.
2.    Menurut Al-Jurjani Al-Hanafi dalam kitabnya, hasad ialah menginginkan atau mengharapkan hilangnya nikmat dari orang yang didengki (mahsud) supaya berpindah kepadanya (orng yang mendengki atau hasad).
3.    Menurut Sayyid Quthb dalam tafsirnya, hasad ialah kerja emosional yang berhubungan dengan keinginan agar nikmat yang diberikan Allah SWT kepada seseorang dari hamba-Nya hilang dari padanya. Baik cara yang dpergunakan oleh orang yang dengki itu dengan tindakan supaya nikmat itu lenyap darinya atas dasar iri hati, atau cukup dengan keinginan saja. Yang jelas dari tindakan tersebut adalah kejahatan.

Hasad tidak cuma ada yang tidak diperbolehkan, melainkan ada juga hasad yang diperbolehkan. Hasad yang tidak dibolehkan seperti yang sudah dijelaskan diatas. Sedangkan hasad yang diperbolehkan yaitu hasad kepada orang yang datang kepada al-Qur’an dan ia sibuk mengamalkannya, dan orang yang kaya namun ia sibuk menginfakkannya.
Dalam hal ini juga dijelaskan dalam hadits Adabun Nabawy (76), yaitu:

عن ابن عمر رضى الله عنهما قال, قال رسول الله عليه وسلم: لا حسد الافى اثنتين: رجل اتاه الله القران فهو يقوم به اناء النهار ورجل اًعطاه مالا فهو ينفق منه اناء الليل واناء النهار. (رواه البخارى ومسلم والترمدى والنسائى(

Artinya:
Dari ibn Umar r.a berkata, sabda Rosulullah SAW: jangan engkau hasad kecuali dua perkara: pertama seorang laki-laki yang datang padanya Al-Qur’an dan ia sibuk mengamalkannya sepanjang hari (siang dan malam) dan yang kedua seorang laki-laki yang diberikan harta dan ia sibuk menginfakkan hartanya sepanjang hari (siang dan malam).[1]

B.                          Perbandingan antara orang yang membaca dan tidak membaca al-Qur’an

عن ابى موسى رضى الله عنه قال, قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مثل المؤمن الدى يقراً القران مثل الاًترجة ريحهاطيب وطعمهاطيب, ومثل المؤمن الدى لايقراً القران مثل التمرة لاريحهاوطعمها حلو, ومثل المنافق الدى لايقراً القران مثل الحنظلة ليس لهاريح وطعمها مر, ومثل المنافق الدى يقراً القران مثل الريحانة ريحها طيب وطعمها مر. (رواه البخارى ومسلم والنسائى وابن ماجه(
Artinya:
Dari Abi Musa r.a berkata, sabda Rosulullah SAW: perumpamaan orang mukmin yang membaca al-Qur’an seperti buah jeruk manis yang baunya harum dan manis rasanya, dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca al-Qur’an seperti kurma yang tak berbau dan manis rasanya, dan perumpamaan orang munafiq yang tidak membaca al-Qur’an seperti buah pare yang tidak berbau dan rasanya pahit, dan perumpamaan orang munafiq yang membaca al-Qur’an seperti bunga raihanah yang baunya harum dan rasanya pahit.[2]
Hadits diatas yaitu menerangkan perumpamaan orang yang membaca al-Qur’an dan orang yang tidak membaca al-Qur’an. Orang mukmin yang membaca al-Qur’an itu seperti buah jeruk manis yang manis rasanya dan harum baunya, sedangkan orang mukmin yang tidak membaca al-Qur’an seperti buah kurma yang tidak ada baunya tetapi manis rasanya. Dalam hadits di atas orang mukmin yang membaca al-Qur’an itu di ibaratkan rasa manis sedangkan orang mukmin itu di ibaratkan baunya.
Sangat banyak pahala dari membaca al-Qur’an, orang yang munafik membaca al-Qur’an saja masi mempunyai nilai seperti orang yang mukmin yang membaca al-Qur’an tetapi berbeda perumpamaan orangnya.

C.                        Hilangnya ilmu karena wafatnya orang berilmu

حديث عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُول: إِنَّ الله لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً، فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Artinya:
Abdullah bin Amr bin al-Ash r.a berkata: saya telah mendengar Rosulullah SAW. Bersabdah: sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu agama langsung dari hati hamba, tetapi tercabutnya ilmu dengan matinya ulama’, sehingga bila tidak ada orang alim, lalu orang-orang mengangkat pemimpin yang bodoh agama, kemudian jika ditanya agama, lalu menjawab tanpa ilmu, sehingga mereka sesat menyesatkan. (Bukhari, Muslim).[3]
Maksud hadits di atas yaitu menjelaskan tentang tercabutnya atau hilangnya ilmu, bukan menghapusnya langsung dari dada para orang-orang penghafal atau pemilik ilmu, Akan tetapi para pemilik ilmu akan mati.
Ketika para ulama’ banyak yang mati manusia mengangkat orang jahil sebagai pemimpin dalam agama. Orang-oarng jahil itu memutuskan perkara-perkara berdasarkan kejahilannya, lantaran itu ia sesat dan menyesatkan banyak orang.
Alangkah banyaknya di zaman sekarang pemimpin dan ustadz-ustadz yang seperti hadits di atas. Mereka diangkat oleh manusia sebagai ulama’ dan ustadz, padahal mereka tidak pantas sebagai panutan, karena ia adalah orang jahil. Kalau pun ia berilmu, namun ilmuanya tidak di gunakan atau di amalkan melainkan di buang di belakang punggungnya. Manusia seperti ini sekarang banyak di dunia dikarenakan banyak para ulama’ yang sudah wafat, dan manusia tidak menemukan orang yang pantas sebagai panutan, jadinya manusia mengangkat orang jahil sebagai pemimpin.
Ada pun dari arah lain, muncul para normal yang dulunya dijauhi oleh manusia, karena telah dikenal memiliki sihir. Sesaat itu kemudian ia dikenal sebagai da’i sejuta umat, karena sekedar pernah memimpin dzikir jama’ah yang banyak dihadiri oleh sebagaian kiyai jahil dan orang-orang yang memiliki kedudukan. Dulunya tukang sihir dan dukun tetapi sekarang menjadi ustadz dan bergelar KH.
 
D.                          Sikap yang baik dan buruk dalam menuntut ilmu

حديث أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم، بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ فِي الْمَسْجِدِ، وَالنَّاسُ مَعَهُ، إِذْ أَقْبَلَ ثَلاَثَةُ نَفَرٍ، فَأَقْبَلَ اثْنَانِ إِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، وَذَهَبَ وَاحِدٌ قَالَ: فَوَقَفَا عَلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَرَأَى فُرْجَةً فِي الْحَلْقَةِ، فَجَلَسَ فِيهَا وَأَمَّا الآخَرُ فَجَلَسَ خَلْفَهُمْ وَأَمَّا الثَّالِثُ فَأَدْبَرَ ذَاهِبًا فَلَمَّا فَرَغَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، قَالَ: أَلاَ أُخْبِرُكُمْ عَنِ النَّفَرِ الثَّلاَثَةِ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللهِ فَآوَاهُ اللهُ؛ وَأَمَّا الآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللهُ مِنْهُ؛ وَأَمَّا الآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللهُ عَنْهُ
Artinya:
Abu Waqid Allaitsy r.a berkata: ketika Nabi SAW. Duduk di masjid bersama sahabat, tiba-tiba datang tiga orang, maka yang dua menghadap kepada Nabi SAW. Sedang yang satu terus pergi. Adapun yang dua, maka yang satu dari padanya melihat ada lowongan ditengah majlis maka ia duduk ditempat itu, sedang yang dua duduk dibelakang, adapun yang ketiga telah pergi. Maka ketika Nabi SAW. Selesai dari nasehatnya telah bersabda: sukakah aku beritakan kepada kalian mengenai tiga orang itu, adapun yang pertama dia ingin mendekat kepada Allah SWT maka Allah memberi tempat dekat, adapun yang kedua dia malu kepada Allah, maka Allah malu kepadanya, adapun yang ketiga dia berpaling dari Allah, maka Allah juga berpaling dari padanya. (Bukhari, Muslim).[4]
Dari hadits di atas menjelaskan bagaimana adab orang yang mencari ilmu atau menuntut ilmu. Orang yang menuntut ilmu itu juga mempunyai tatacara. Orang yang mau mendapatkan ilmu itu harus sungguh-sungguh dan tidak malu-malu. Orang yang mau mendekatkan dirinya pada Allah maka Allah juga akan dekat dengannya. Sebaliknya kalua orang yang mau mencari ilmu tetapi orangnya malu-malu dan tidak mau mendekatkan diri pada Allah maka Allah tikan akan dekat padanya. Dan dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.     



[1]Adabun Nabawy, 76
[2]Ibi.., 79
[3]Lu’lu’ Wal Marjan, 1712
[4]Ibid.., 1405

Tidak ada komentar:

Posting Komentar